CERPEN : SIANG SAMPAI SORE

Kenangan, adalah sesuatu yang indah menurut semua orang. Itulah sebabnya sesuatu itu menjadi dikenang, diingat, dan membekas . Kenangan akan keindahan dan kejayaan di masa lalu, kenangan bersama orang tercinta. Tetapi untuk mengingatnya kembali rasanya sesak karena tak kuasa untuk mengulangi lagi, sedangkan perasaan rindu sudah membabibuta. Saat ini, yang ku lakukan dan kualami mungkin saja akan menjadi kenangan di masa depan dan akan selalu kurindukan. Aku.. dan ketiga kawanku ini yang setiap hari selalu bersama-sama.

Pada pertemuan kami kali ini sehabis pulang dari sekolah kami berkumpul di rumah Imam. Aku mendengar cerita dari Imam tentang perjalanannya dengan Agus kemarin. Mereka jalan kaki ke sebuah pegunungan dekat kota. Mendengar cerita mereka aku ingin sekali untuk menjelajahi pegunungan yang tinggi nun jauh masuk dan keluar hutan. Bukannya menjelajahi imajinasi saja seperti yang kualami. Kutawari Imam, Agus, dan Frendi.
"Mam, ke sono lagi yok.. tapi yang jauh jangan di tempat yang kemarin itu." Tawarku.
Keinginan itu lah yang sudah lama sekali menjamur tetapi belum terwujud jua. Ketiga temanku setuju dan akan langsung sgera berangkat. Frendy, rasa setujunya yang paling kecil bisa dilihat dari raut mukanya. Tapi apalah daya dia terpaksa harus ikut mengikuti ketiga temannya hanya untuk sebuah kepentingan bernama solidaritas. Setelah beberapa lama berbincang-bincang dengan kami, Frendy bangkit.
"Ke mana fren?" Tanya Agus.
"Laper!" jawabnya, lalu dia pergi.
Nggak nyambung! Ditanya ke mana jawabannya laper. Tetapi dia kembali membawa plastik berisi beberapa lontong dan gorengan. Nah ini baru nyambung! Saat frendy, kembali Imam sedang mengambil sebotol besar air dingin dari kulkas. Melihat kami bertiga makan lontong dan gorengan dengan lahap, Imam tidak terima.
"Woy!! Bagi-bagi woy!!"
Dengan segera, Imam menyambar makanan itu komplit dengan plastiknya.
"Yah. Tinggal segini. Adi rakus banget!" Kami bertiga hanya tertawa.
Dan nasib sebotol raksasa air dingin itu, air itu habis oleh kami berempat. Setengah botol olehku, setengahnya lagi dibagi mereka bertiga. Ya, aku memang rakus.

***
Tuhan memberi dua kaki untuk berjalan, dua mata untuk melihat dan dua telinga untuk mendengar. Dan aku berjalan dengan tegap menyusuri jalan dan alur yang telah diatur oleh Tuhan. Berjalan menapaki setiap yang kuimpikan dan telah lama mengimajinasi. Kubuka lebar lebar mataku sampai kulihat betapa indahnya nikmat Tuhan, sampai kulihat bahwa di sini aku bersama sahabatku, sampai kulihat indahnya persahabatan, dan yang terakhir sampai mataku kelilipan saking lebarnya kubuka mataku dan lama tak berkedip. Aku mendengar keingintahuan menyuara, menarik, memikat, sampai jalanku dan mataku yang kelilipan tadi mengikuti suara itu.

Kami sudah berjalan meninggalkan jalan raya dan sekarang melewati jalan setapak. Tujuan pertama kami adalah sungai dekat pegunungan walau sebenarnya sudah sangat sering kami kunjungi. Acaranya? Hanya mandi dan main air. Sungai itu dipenuhi batu-batu besar , airnya dangkal tetapi sangat deras, jernih pula. Tak pernah bosan kami mengunjunginya.

Main airnya sudah selesai. Sesudah memakai baju kami duduk duduk sebentar sambil mengeringkan badan. Dan rasanya ada bau aneh seperti ... hmm rupanya ada yang kentut, aku tahu siapa pelakunya. Aku langsung menepuk Frendy, tetapi frendy malah memepuk agus, sedangkan Agus menepuk Imam. Dan Imam tertawa renyah. Dugaanku salah. Benar kata guruku, suudzon itu tidak baik dan juga dosa. Andai guruku ada di sini aku ingin bertanya "lebih besar mana dosanya, aku yang suudzon kepada Frendy atau Imam yang sengaja mengentuti teman-temannya dengan level baunya mencapai 97%?"

Gara-gara tragedi kentut tadi, kami semua berdiri dan akhirnya melanjutkan perjalanan. Melewati jalan setapak yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Mula-mula berjalan santai, menjadi dipercepat, lalu dipercepat lagi dan akhirnya sampai pada tahap lari. Agus paling depan karena dia yang paling bersemangat. Aku yang kedua karena -sebenarnya aku lebih bersemangat dari Agus- aku tidak mau menjadi yang paling depan. Yang ketiga adalah Imam karena dia mengalah untukku. Dan Frendy yang terakhir. Tentu saja, dia kan sebenarnya tidak mau jadi tidak terlalu bersemangat. Dialah yang pertama bilang capek dan dia jugalah yang meminta kami untuk berhenti berlari. Semangat kawan, semangatlah yang membuat kita takkan pernah lelah untuk menggapai tujuan. Tak ada rasa lelah sedikitpun yang kurasakan setelah sekian jauh berjalan dan berlari. Kami berhenti berlari dan berjalan seperti biasa lalu berhenti sejenak sambil ngos ngosan. Tapi berhenti bukan karena capek melainkan ada pohon jambu dan banyak jambu yang sudah matang. Dasar codot!!

Di perjalanan bertemu sungai lagi, airnya benar-benar deras dan bisa menyeret kami sampai terperosok ke sungai yang lebih dalam dan bisa menyebabkan ....? Ya benar! Menyebabkan baju menjadi basah. Berikut adalah reaksi dari kami.
Agus: (mengambil bambu) "lumayan dalem nih. Susah nyebrangya!"
Aku: "Cari jalan lain yuk kalo nggak bisa nyebrang!"
Imam: "Cari bagian yang dangkal. Kita nyebrang aja!"
Frendy: "Wah kita nyasar nih. Pulang aja yuk!"

***
Dan akhirnya kami sepakat untuk menyebrangi sungai di bagian yang paling dangkal. Dangkalnya itu sekitar 5cm di atas lututku. Di antara kami yang paling pendek adalah aku, beruntung sekali mereka punya tubuh yang tinggi, air sungai ada di bawah lutut mereka. Bagian yang paling menegangkan adalah ketika Frendy mulai menyebrang. Wajahnya ketakutan, kakinya gemetar, matanya mendelik fokus pada kakinya yang setiap dia melangkah arus yang deras selalu ingin membawanya. Sampai-sampai dia tidak mampu bergerak ke depan dan ketika dia memaksa untuk tetap maju, tiba-tiba arua yang deras meyeret paksa kakinya itu.
"Aduh! Tolong!" Posisinya sudah hampir terjatuh dan nyaris sekali terseret air. Tangannya sudah tenggelam di air dalam posisinya yang seperti orang merangkak. Dengan cepat kami bertiga yang sudah nyebrang duluan mengulurkan bambu pendek yang tadi digunakan Agus untuk mengukur kedalaman. Frendy memegang bambu itu dengan satu tangannya, tetapi seluruh tubuhnya malah hampir terseret air semua. Lalu dipegangnya bambu itu dengan kedua tangannya, sangat erat. Jika kamu melihat wajahnya yang ketakutan itu, tidak jauh beda dengan orangutan di Kalimantan yang kehilangan anaknya beserta rumahnya yang kebakaran atau ditebang oleh orang-orang busuk tak bertanggung jawab. Sangat sangat memelas. Tetapi wajah itu seketika hilang ketika Frendy telah berhasil menyebrang. Girangnya minta ampun.

R.A Kartini pernah berkata "habis gelap terbitlah terang". Betrayer berkata "habis gelap tak terbit terang". Sedangkan aku (dalam batinku) berkata "habis ngeliat orang utan kok gelap?"
Jalanan yang kami lalui agak gelap. Tanahnya keras tetapi ada air yang mengalir menuju sungai tadi. Di kanan kiri terdapat dinding alami dari tanah, menjulang tinggi. Artinya jalan yang sedang kami lalui adalah terowongan bawah tanah tanpa atap.

***
Hatiku merasa sangat tentram ketika bulir-bulir kesejukan menghampiri dan meletup merasuki tubuhku. Tubuhku dimanjakan oleh angin-angin yang bersemilir dan mataku dimanjakan oleh bentangan karya maha Agung dari Tuhan, alam yang indah, hijau, dan asri. Inilah puncak perjalanan kami. Inilah puncak tertinggi dari pegunungan yang kami lihat. Inilah puncak tertinggi dari kisah persahabatan yang pernah kami rangkum.

Perjalanan ini sama persis dari apa yang kubayangkan yaitu berjalan sangat jauh, kepanasan, mendaki gunung, melihat pemandangan indah tak terperi dan merasakan kisah persahabatan yang terkenang abadi. Walaupun ada hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan yaitu "orangutan menyebrangi sungai".

Aku sangat betah di sini bersama mereka tetapi waktu terasa sangat singkat. Matahari sudah mulai meredup pertanda hari sudah sore. Kami pulang. Tetapi batinku mengatakan "Kawan-kawan aku tidak ingin pulang. Ayolah tetap di sini!"

Post a Comment